Merdeka! Merdeka!

Cit..cit..cit..(baca:tikus, bukan burung). Bunyi itu ngebangunin sesosok kekar dengan tinggi 183 cm, berwajah tampan, berbudi pekerti baik, jujur, romantik, dan luar biasa (baca:gua) tepat jam 6 pagi. Begitu bangun, 1 kata yang terlintas di benak gua:’MERDEKA’! Ya! Merdeka! Gila luh, udah 65, eh, 63, eh, 62 ding. 62 kan? Tau ah, udah lama negara kita merdeka! Begitu inget kata itu, jiwa nasionalis gua langsung memaksa (iya, memaksa) tangan gua untuk mengambil hape. Dengan kesungguhan hati, ketulusan dari lubuk jantung terdalam, cieh, gua tulis:
Indonesia, merah darahku, putih tulangku, bersatu dalam semangatmu,.,Met hari kemerdekaan!!!mari kita bangkit bersama sebagai generasi muda yang berkualitas dan berintegritas tinggi, demi terwujudnya Indonesia baru yang lebih baik dalam segala aspek…

Iya, gua tau, kata-kata gua emang menggugah, menggelora, penuh gairah, aahh!! Terus, dengan keyakinan teguh, gua tekan tombol ‘send’ ke nomor-nomor yang udah gw tulis. Dan, hasilnya cukup mengejutkan, man! Dari 13 orang yang gua kirimin sms, Cuma 4 orang yang membalas jiwa nasionalis gua! Dari 13, cuma 4! Sekali lagi, cuma 4! Tapi gua bersyukur, masih ada muda-mudi yang masih dipenuhi semangat merdeka menyongsong pembangunan…

Eniwei, hari konyol gua dimulai dari pagi hari, ketika gua nonton upacara bendera di tivi. Pas komandan upacara teriak: “Hormat senjataaaaaaa…….. Garuk (grauk, maksudnya)!”, otak iseng gua tiba-tiba bekerja, dan sebuah ide brilian terlintas di pikiran gua. Berikut ini adalah tergambar di otak gua: Si komandan bilang “Hormat senjataaaaaa……Garuk!”. Terus, bapak Presiden bilang, “Tinggian dong”. Terus, si komandan teriak lagi “Hormat senjataaaaaaaa….Garuk!”, kali ini dia teriak dengan suara tinggi, mirip-mirip seriosa. Lalu tiba-tiba pak Presiden bilang lagi: Hexos, memang tiada duanya!
Gua langsung ketawa terbahak-bahak. Orang laen yang liat gua tanpa bisa membaca pikiran gua pasti menganggap gua orang yang humoris abis, ketawa tiba-tiba tanpa sebab, seperti nyokap gua yang lewat, terus mencet telpon, beberapa detik kemudian dia bilang, “Papi, anak kita jadi gila…”
Selese upacara, di tivi muncul video klip yang lagunya:
Biar saja ku tak sehebat matahari
Tapi slalu kucoba tuk menghangatkanmu
Biar saja ku tak setegar batu karang
Tapi slalu kucoba tuk melindungimu
Biar saja ku tak seharumbunga mawar
Tapi slalu kucoba tuk mengharumkanmu
Biar saja ku tak seelok langit sore
Tapi slalu kucoba tuk mengindahkanmu …

Seketika itu juga badan gua bergetar. Bukan, bukan karena terharu, tapi gua kebelet pipis. Dari pagi gua belom ke pipis. However, that’s a really damn good song! Setiap gua denger tuh lagu, ga pernah bosen gua. Faktanya, bangga gua jadi orang Indonesia, apalagi yang setampan gua. Tuh lagu bener-bener bikin merinding, man; mengobarkan semangat nasionalisme. Makanya, jiwa-jiwa muda Indonesia, ayo kita bangkit, melakukan yang kita bisa demi berkembang, maju, dan lepas landasnya Indonesia yang kita cintai ini! Uoh!

Leave a Reply